Dinasti Syailendra adalah salah satu dinasti paling berpengaruh dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Berkuasa sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, dinasti ini dikenal sebagai penganut Buddha Mahayana yang taat, meninggalkan jejak peradaban yang megah, salah satunya Candi Borobudur. Memahami raja-raja kuncinya esensial untuk menguak masa keemasan tersebut.
Asal-usul Dinasti Syailendra masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan, ada yang menyebut dari India, Funan (Kamboja), atau asli Nusantara. Namun, yang pasti adalah dominasi mereka di Jawa Tengah bagian selatan, berdampingan dengan Dinasti Sanjaya yang bercorak Hindu.
Dinasti Syailendra mencapai puncak kejayaan dalam bidang seni, arsitektur, dan keagamaan. Peninggalan berupa candi-candi Buddha yang monumental menjadi bukti kekuatan dan pengaruh mereka. Mari kita intip profil empat raja penting yang membawa dinasti ini pada masa keemasan.
- Rakai Panangkaran (760-780 M)
Rakai Panangkaran dikenal sebagai raja pertama dari garis Dinasti Syailendra yang namanya muncul dalam prasasti. Meskipun ada perdebatan tentang apakah ia penerus langsung Sanjaya atau memimpin setelah terjadi pergeseran kekuasaan, Prasasti Kalasan (778 M) menyebutnya sebagai “Sailendrawangsatilaka”. Ia berperan penting dalam pembangunan candi bercorak Buddha.
- Dharanindra (Rakai Panunggalan/Indra) (780-800 M)
Dharanindra, atau sering diidentifikasi sebagai Raja Indra, merupakan raja yang berkuasa setelah Rakai Panangkaran. Pada masa pemerintahannya, Dinasti Syailendra berhasil memperluas pengaruhnya hingga ke Sriwijaya dan bahkan menundukkan Kamboja. Ia juga diyakini sebagai raja yang memulai pembangunan Candi Sewu, menunjukkan ambisi dan kekuatan dinasti.
- Samaratungga (812-833 M)
Raja Samaratungga adalah salah satu raja paling terkenal dari Syailendra. Namanya sangat erat kaitannya dengan penyelesaian pembangunan Candi Borobudur, mahakarya arsitektur Buddha terbesar di dunia. Candi ini menjadi simbol kejayaan Kerajaan Syailendra dan Warisan Dunia UNESCO, mencerminkan kemajuan spiritual dan seni.
Pernikahan putrinya, Pramodawardhani, dengan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, adalah peristiwa penting yang mengakhiri persaingan dan menyatukan kembali kedua dinasti. Ini menunjukkan kebijakan politik yang cerdas untuk menjaga stabilitas wilayah Mataram Kuno.
- Balaputradewa (856-850 M di Jawa, kemudian di Sriwijaya)
Balaputradewa adalah putra Raja Samaratungga. Setelah perselisihan suksesi dengan Rakai Pikatan, yang merupakan menantu Samaratungga, Balaputradewa meninggalkan Jawa dan menjadi raja di Sriwijaya (Sumatera). Ia kemudian dikenal sebagai raja besar Sriwijaya yang memperluas kekuasaannya, melanjutkan warisan Kerajaan Syailendra di luar Jawa.
Keempat raja ini adalah pilar-pilar penting dalam sejarah Kerajaan Syailendra, membentuk peradaban yang kaya dan meninggalkan peninggalan yang masih kita kagumi hingga hari ini. Kisah mereka adalah cerminan kejayaan Mataram Kuno di masa lalu.
